Efesus (Éphesos, “yang didambakan”): Sebuah kota di propinsi Romawi di Asia, dekat muara sungai Kayster, 3 mil (1 mil= 1, 6 km) letaknya dari pantai barat di Asia Kecil, dan di seberang pulau Samos. Dengan pelabuhan buatan yang dapat dilayari oleh kapal-kapal besar (bersaing dengan pelabuhan Miletus) dan terletak di jalan masuk menuju lembah yang membentang jauh ke pedalaman Asia Kecil, dan dihubungkan dengan jalan-jalan besar dengan kota-kota utama propinsi, Efesus merupakan kota yang paling mudah dicapai di Asia, melalui darat dan laut. Karena itu lokasinya mendukung perkembangan agama, politik dan perdagangan, dan memberikan ladang yang paling menguntungkan bagi pekerjaan pelayanan Paulus. Kota ini berdiri pada lereng dan di bawah dua bukit, Prion dan Koresus, yang menyuguhkan pemandangan yang indah. Cuacanya luar biasa bagus dan tanah lembahnya luar biasa subur.
Menurut tradisi, pada masa lampau dekat tempat di mana dewi bumi dilahirkan, bangsa Amazon membangun sebuah kota dan sebuah kuil di mana mereka mungkin melakukan penyembahan. Kota kecil bangsa Amazon ini, yang namanya berganti-ganti sepanjang masa, Samorna, Trakhea, Ortigia dan Ptelea, bersemi hingga masa-masa awal kebudayaan Yunani. Kota ini membangkitkan minat dan keinginan Androklus, seorang pangeran Atena. Ia menaklukkannya dan membuatnya menjadi sebuah kota Yunani. Tradisi lain mengatakan bahwa Androklus adalah pendirinya. Tetapi, di bahwa pemerintahan Yunani, kebudayaan Yunani sedikit demi sedikit digantikan oleh kebudayaan Timur. Bahasa Yunani digantikan oleh bahasa Asia, dan dewi kuil Asia sedikit banyak mengambil karakter dewa Yunani, Artemis. Efesus, karena itu, dan karena semua yang berkaitan dengannya, merupakan percampuran antara kebudayaan Timur dan Yunani. Meskipun sejarah awal kota tsb tidak jelas, nampaknya kota ini pernah berada di bawah kekuasaan bangsa Karia, Lelege dan Ionia pada masa yang berbeda-beda. Pada masa awal sejarah, kota ini adalah salah satu dari liga 12 kota Ionia. Pada tahun 560 SM kota ini menjadi milik bangsa Lidia; tiga tahun berikutnya, pada tahun 557 SM, kota ini diambilalih oleh bangsa Persia; dan selama tahun-tahun berikutnya bangsa Yunani dan Persia terus menerus memperebutkannya. Akhirnya, Aleksander Agung mengambilnya; dan setelah kematiannya, kota ini jatuh ke tangan Lysimakhus, yang menamainya Arsinoe, dari nama isteri keduanya.
Setelah kematian Atalus II (Filadelfus), raja Pergamos, kota ini diwariskan kepada Kekaisaran Romawi; dan pada tahun 190, ketika propinsi Romawi Asia dibentuk, kota ini menjadi bagiannya. Efesus dan Peramos, ibukota Asia, adalah dua kota rival di propinsi itu. Meskipun Pergamos adalah pusat keagamaan dan pemerintahan Romawi, Efesus lebih mudah dicapai, dan merupakan pusat perdagangan dan tempat asal dewi lokal Diana. Dan karena kekayaan dan situasinya, kota ini perlahan-lahan menjadi kota utama di propinsi tsb. Tetapi adalah berkat kuil Diana bahwa kota itu menjadi sangat kaya dan terkenal. Seperti kota itu, kuil itu berasal dari masa bangsa Amazon, tetapi seperti apa kuil yang mula-mula kita tidak dapat mengetahuinya sekarang. Dan kita juga hanya mengenal sedikit mengenai sejarahnya, kecuali bahwa kuil ini pernah dihancurkan oleh tujuh kebakaran dan setiap kali dibangun kembali dengan ukuran yang lebih luas dan lebih besar daripada sebelumnya. Raja Kroesus yang kaya mensuplainya dengan pilar-pilar batu, dan para peziarah dari seluruh dunia Timur menyumbang dari kekayaan mereka. Pada suatu masa tertentu, kuil memiliki tanah-tanah yang berharga; kuil itu mengendalikan perikanan; pendeta-pendetanya adalah bankir-bankir yang mengurus pendapatan kuil yang besar sekali. Karena kehebatannya, orang menyimpan uang mereka di sana untuk ditabung.
Pada tahun 356 SM, tepat pada malam Aleksander Agung dilahirkan, kuil itu terbakar. Dan ketika ia bertumbuh menjadi dewasa, ia menawarkan untuk membangunnya kembali dengan uangnya jika namanya boleh dituliskan pada pintu-pintu gerbangnya. Ini tidak diijinkan oleh para imam Efesus, dan mereka dengan sopan menolak tawarannya dengan mengatakan bahwa tidak pantas bagi seorang dewa untuk membangun kuil bagi dewa lainnya. Orang-orang Efesus kaya sendiri yang akhirnya melaksanakan pembangunan kembali, dan yang baru berhasil diselesaikan 220 tahun kemudian.
Kuil Diana tidak hanya merupakan tempat penyembahan, dan tempat penyimpanan harta, tetapi juga merupakan museum di mana patung-patung yang terbaik dan lukisan-lukisan yang terindah disimpan. Di antara lukisan-lukisannya ada satu yang dilukis oleh Apelles yang terkenal, seorang yang berasal dari Efesus, yang menggambarkan Aleksander Agung sedang melontarkan halilintar. Kuil ini juga merupakan tempat perlindungan para kriminal, semacam kota perlindungan, karena tak seorangpun boleh ditangkap karena kejahatan apapun jika berada di dalam jarak bidikan panah dari dinding-dindingnya. Karena itu di sekitar kuil muncul perkampungan tempat tinggal para pencuri, pembunuh dan kriminal lainnya. Kuil ini tidak hanya membawa sejumlah besar peziarah ke dalam kota itu, seperti Ka’abah di Mekah pada masa kini, tetapi juga mempekerjakan sejumlah besar orang selain pendeta pria dan wanita. Di antara mereka ada sejumlah besar seniman yang membuat gambar-gambar dewi Diana, atau kuil-kuil kecil untuk dijual kepada orang-orang asing yang berkunjung.
Begitulah Efesus ketika Paulus pada perjalanan misinya yang kedua dalam Kisah Para Rasul (Kis 18:19-21) pertama kali mengunjungi kota tsb, dan ketika, pada perjalanannya yang ke-3 (Kis 19:8-10, 20:31), ia tinggal di sana selama dua tahun untuk berkhotbah di sinagoge (Kis 19:8, 19:10), di sekolah Tiranus (Kis 19:9) dan di rumah-rumah pribadi (Kis 20:20). Meskipun Paulus mungkin bukan orang pertama yang membawa Kekristenan ke Efesus, karena orang Yahudi sudah lama berdiam di sana (Kis 2:9, 6:9), ia adalah orang pertama yang berani menentang penyembahan Diana. Karena kemasyuran pengajarannya dibawa oleh para peziarah ke rumah-rumah mereka yang jauh, pengaruhnya meluas hingga kepada setiap bagian dari Asia Kecil. Pada waktunya para peziarah, sejalan dengan menurunnya kepercayaan kepada Diana, menjadi makin sedikit jumlahnya. Penjualan kuil-kuil kecil dewi jatuh, Diana milik orang-orang Efesus tidak besar lagi. Sebuah gereja Kristen berdiri di sana dan berkembang, dan salah satu dari pemimpinnya yang pertama adalah rasul Yohanes. Akhirnya pada tahun 262 Masehi, ketika kuil Diana terbakar lagi, pengaruhnya sudah sangat menurun sehingga tidak pernah dibangun kembali. Diana sudah mati. Efesus menjadi kota Kristen, dan pada tahun 341 Masehi Sidang Dewan gereja Kristen diadakan di situ. Kota itu sendiri segera kehilangan peran pentingnya dan jumlah penduduknya menurun. Batu-batu pahatan dari gedung-gedungnya yang hebat, yang tidak lagi digunakan dan mulai runtuh berkeping-keping, dibawa pergi ke Italia, dan khususnya ke Konstantinopel untuk membangun gereja agung Santa Sofia. Pada tahun 1308 orang-orang Turki merebut apa yang tertinggal dari kota itu, dan mengangkut atau membunuh penduduknya. Sungai Kayster, yang membanjiri tepian-tepiannya, sedikit demi sedikit menutupi tempat di mana kuil Diana pernah berdiri dengan lumpur yang dibawanya, dan pada akhirnya tempatnya yang tepatnya dilupakan.
Kampung kecil Ayasaluk, yang terletak 30 mil dari Smirna, tidak menandai situs kota kuno Efesus, tetapi kampung itu berdiri paling dekat dengan reruntuhannya. Nama Ayasaluk adalah hasil perusakan dari tiga kata Yunani yang maknanya “Perkataan Allah yang Suci.” Jika kita melintasi kampung itu, kita akan tiba pada reruntuhan saluran air tua, dinding-dinding kota yang sudah jatuh itu, gereja yang disebut sebagai gereja Yohanes atau tempat pemandian, benteng Turki yang kadang disebut penjara Paulus, teater besar yang merupakan panggung pemberontakan pada masa Paulus, yang sekarang, dengan marmernya yang sudah diambil, hanya merupakan sebuah lubang di sisi bukit Prion. Pada tahun 1863 J. T. Wood, memperoleh ijin dari pemerintah Turki untuk meneliti situs kuil Diana yang hilang, untuk Museum Inggris. Selama 11 tahun ekskavasi di Efesus, mereka menghabiskan biaya 80.000 Dollar dan mereka berhasil menyelidiki beberapa kota kuno secara lebih mendalam. Tembok kota Lysimakhus ditemukan berukuran 36.000 kaki (1 kaki = 0,3 m) panjangnya dan membentengi daerah seluas 1027 m2. Tebalnya 10 12 kaki dan diperkuat dengan menara setiap jarak 100 kaki. Keenam pintu gerbang yang menembus tembok sekarang ditandai oleh gundukan sampah. Situs dan dimensi berbagai bangunan publik, jalan-jalan, pelabuhan, dan fondasi dari banyak rumah pribadi ditentukan dengan pasti, dan banyak tulisan dan patung dan mata uang ditemukan. Tetapi penelitian itu tidak menunjukkan situs kuil hingga tanggal 1 Januari 1870, setelah 6 tahun bekerja dengan tak mengenal lelah. Hampir secara kebetulan situs itu ditemukan di lembah di luar tembok-tembok kota, beberapa kaki di bawah permukaan yang sekarang. Fondasinya, satu-satunya yang tersisa, memungkinkan Mr. Wood untuk merekonstruksi seluruh denah kuil. Kuil dibangun di atas fondasi yang dicapai melalui 10 anak tangga. Bangunan itu sendiri tingginya 425 kaki dan lebarnya 220 kaki; setiap tiang dari barisan tiang yang berjumlah 127 yang menyangga atap, tingginya 60 kaki. Seperti kuil-kuil Yunani, bagian dalamnya terbuka. Untuk mendapatkan deskripsi lebih lanjut mengenai kuil ini, Anda bisa membaca buku tulisan Mr. Wood yang sangat bagus, Discoveries at Ephesus (Penemuan-penemuan di Efesus).
[Sumber : International Standard Bible Encyclopedia yang tersedia secara cuma-cuma melalui E-Sword]
Tidak ada hal yang patut dimiliki yang tidak diperoleh dengan keringat.
Anda pada akhirnya akan kehilangan apa yang tidak Anda pahami – Jeffrey Rachmat